Seputar Pendidikan

Whisnu Sakti Ajak Kaum Muda Tak Alergi Politik

IMG-20180514-WA0069
Written by admin

SURABAYA – Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengajak kaum muda untuk tidak alergi politik. Selama ini politik menjadi pelarian mereka yang gagal masuk pegawai negeri sipil (PNS), dokter, bisnis dan lainnya sehingga masuk partai politik (Parpol) sebagai pelarian dan berujung rusaknya tatanan politik.

Ini disampaikan Whisnu Sakti Buana saat menjadi pemateri Youth Town Hall yang digelar PT XL Axiata, di Gedung C Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisip) Kampus B Universitas Airlangga (Unair), Senin (14/5/2018).

“Mahasiswa, pelajar, kaum muda jangan apatis bicara politik. Dari politik bisa raih kekuasaan. Tak ada jalan lain untuk meraih kekuasaan selain lewat politik. Di bumi tercinta ini yang masuk politik banyak yang gagal dibidang lain, sebagai usahawan, sebagai dokter,” kata Whisnu Sakti.

Pria yang menerjuni politik praktis sejak berstatus mahasiswa ini mengingatkan bahwa sejatinya dunia politik memberikan ujian paling berat dibanding bidang lain. Ini karena ujiannya lewat kekuasaan.

“Bicara korupsi banya dari politisi, saya tidak menafikan itu. Tak banyak orang baik dan berkompeten yang terjun ke politik sejak awal,” imbuh WS, sapaannya.

Semakin sedikit orag baik dan berkompeten terjun ke politik sejak awal, kata Whisnu, semakin sedikit pula pemikir baik bangsa ini.

Kepada mahasiswa yang mengikuti evet Youth Town Hall, Whisnu mengajukan pertanyaan agar anak mereka menyebutkan tokoh-tokoh muda pra kemerdekaan. Ada Soekarno, Moh Yamin, Bung Tomo dan lainya yang ketika itu muda, masuk golongan pemuda. Mereka ketika itu disebut politisi.

“Banyak tokoh muda sekarang tidak di dunia politik. Dulu orang pinter terjun di politik dan lahir sebagai politisi, pemimpin handal yang bisa persatukan Indonesia, bisa memerdekakan Indonesia,” paparnya.

Sekarang dunia politik jadi dunia pelarian mereka yang gagal dibidang lain sehingga ketika berada di kekuasaan mereka tidak kuat menghadapi ujian bersamaan kekuasaan itu.

“Istilah saya kere munggah bale, tidak kuat derajat, lupa jatidiri. Karena itu anak muda jangan apatis politik. Jangan anggap politik itu kotor, politik itu ilmu, politik itu suci. Yang kotor itu orangnya, yang jahat manusianya,” pesan Whisnu yang juga ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya.

Apabila kaum muda ingin mengubah sistem, masih kata Whisnu, maka harus masuk ke dalam. Apabila ingin mengubah dari luar diperlukan ekstra power.

Dalam konteks ini Whisnu menganalogikan telur yang pecah dari dalam maka akan memunculkan kehidupan karena menetas. “Namun kalau telur dipecah dari luar dan masuk penggorengan namanya telur mata sapi. Yang bertelur ayam dan yang dapat nama sapi. Karena namanya telur mata sapi, bukan telur mata ayam,” Whisnu sedikit mengajak mahasiswa tertawa.

Politik membutuhkan orang baik, berkompeten dan handal. “Pesan Bung Karno, beri aku seribu orang tua akan kucabut mahameru, beri aku sepuluh pemuda akan kugoncang dunia,” Whisnu menginspirasi.

Sementara itu, terkait posisinya sebagai ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Whisnu menyebut kaderisasi di partainya berjalan dengan baik.

“Ketika partai lain kekurangan kader muda, tidak demikian dengan PDI Perjuangan. Kaderisas kita berjalan, banyak anak muda bergabung dan mengikuti sekolah kader berjenjang, ada muda, madya, dan utama. Bukan saatnya lagi mahasiswa sebatas ingin jadi pengusaha, dokter, tapi harus berpikiran masuk politik,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Informasi dan Humas sekaligus pakar politik Unair Suko Widodo mengatakan minimnya ketertarikan kaum muda pada politik bukan saja terjadi di Indonesia. ” Di Malaysia contohnya, yang tua kembali terpilih. Mahathir Muhammad masih turun tangan,” kata Suko. (ano)

About the author

admin

Leave a Comment