Guruku Menulis Klinik Guru

Strategi Membangun Manajemen PAUD Berbasis Koperasi & Kiat Sukses Bebas dari Ketergantungan SPP ala PAUD Enggal Permata

IMG-20171218-WA0001
Written by admin

*) Oleh : Kusmiati, S.Pd.

Latar Belakang Masalah :
Seperti kata pepatah bahwa tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, begitu juga dengan masalah. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Begitu juga dengan yang saya alami.

Masalah selama menjadi guru dan pengelola PAUD banyak sekali muncul dalam perjalanan. Allah memberi masalah kepada setiap umatnya karena Allah sayang kepada kita. Masalah yang muncul adalah bentuk perhatian Allah yang akan menaikkan derajat kita sebagai umat manusia.

Pada awalnya, pihak keluarga belum sepenuhnya mendukung usaha kami mendirikan PAUD, terutama mertua. Kami tidak diijinkan untuk menempati dapur rumah yang menurut saya masih layak untuk dijadikan tempat pembelajaran, karena untuk meminta ijin menempati ruang tamu jelas tidak akan diijinkan orang tua.

Karena saat itu kami belum mempunyai modal yang cukup dan belum mempunyai persiapan apa-apa. Hanya bermodalkan niat dan tekad yang kuat kami akhirnya memutuskan untuk mencari kontrakan sebagai tempat menyelenggarakan PAUD.

Masalah kedua yaitu kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang mayoritas adalah buruh tani dan petani cabai merah yang harganya tidak menentu sehingga masih banyaknya orang tua yang langsung memasukkan anaknya ke SD, dengan banyak alasan, misalnya tidak mampu karena tidak ada biaya, yang jauh tidak punya kendaraan, atau tidak ada yang mengantar dan menunggui saat anak bersekolah karena orang tua harus bekerja di ladang.

Sedangkan masyarakat yang mempunyai ekonomi lebih juga merasa sayang uangnya untuk biaya pendidikan. Mereka lebih memilih menghabiskan uangnya untuk menambah jumlah ternak kambingnya atau dibelikan sapi dari pada untuk membiayai anak sekolah.

Kondisi pendidikan masyarakat yang rendah, menganggap bahwa pendidikan PAUD itu tidak penting. Pernah suatu saat kami gratiskan sekolah kami tetapi mereka masih menolak dengan alasan anaknya masih kecil belum bisa apa-apa. Bukan karena tidak mampu membiayai sekolah tetapi memang tidak ada keinginan dari orang tua untuk menyekolahkan PAUD.

Masalah ketiga, adanya beberapa tokoh masyarakat yang tidak mendukung. Mereka menghasut beberapa pendaftar dengan isu bahwa lembaga kami dibawah aliran agama tertentu dan biaya pendidikan di lembaga kami sangat mahal.
Akibat isu negatif ini, selama beberapa tahun lembaga kami mengalami sepi peminat, cuma ada dua pendaftar baru itupun yang satu akhirnya keluar, dengan alasan di PAUD cuma diajari nyanyi-nyanyi dan bermain saja. Mereka menganggap sekolah itu ya membaca, menulis dan berhitung.

Masalah yang keempat, kebanyakan wali murid selalu ingin menemani anaknya dengan berbagai alasan sehingga mengundang munculnya banyak pedagang. Akibatnya, wali murid jadi mengeluh kepada kami karena merasa lebih banyak biaya hariannya untuk beli ini dan itu.

Pedagang yang muncul di sekolah bermacam-macam, mulai penjual ikan, jajanan, mainan anak, perabot rumah tangga dan pakaian. Saat itu betapa kami mengalami kesulitan keuangan untuk membiayai operasional sekolah karena banyak wali murid yang menunggak SPP.

Masalah kelima, terjadinya konflik antara pemilik rumah kontrakan tempat menyelenggarakan PAUD dengan para wali murid. Pemilik rumah tidak suka dengan sikap orang tua yang berebutan melihat anaknya melalui kaca, sehingga kacanya menjadi kotor. Habis dibersihkan besoknya kotor lagi. Ketidaknyamanan ini memaksa kami agar segera mencari tempat untuk berpindah tempat walaupun hanya bekas kandang sapi sangat memberi makna dan berkah kepada kami.

Masalah keenam munculnya konflik wali murid dengan guru. Guru merasa, hadirnya wali murid membuat suasanan menjadi gaduh dan menghilangkan konsentrasi guru. Wali murid terlalu ikut campur terhadap pembelajaran. Menuntut guru untuk mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Ada wali murid yang bilang gurunya kurang cerdas mengajar hanya itu-itu saja, orang tua jadi bosan.
Masalah yang terakhir berasal dari para guru. Guru yang hanya lulusan SMA kurang informasi dan kurang pelatihan. Usia masih sangat muda. Apabila terjadi masalah mereka memutuskan untuk berhenti mengajar. Untuk mengatasi kekurangan tenaga, walaupun terpaksa akhirnya memutuskan merekrut warga sekitar meskipun hanya lulusan SD.

1. Koperasi Sekolah
Ala PAUD Enggal Permata

Adalah bentuk usaha ekonomi yang dilakukan seluruh civitas akademika atas dasar kekeluargaan dan ditujukan untuk kemaslahatan seluruh warga PAUD Enggal Permata

A. Langkah-langkah:
Membuat Sekolah Model. PAUD Enggal Permata adalah sekolah model 3 in 1 ( meliputi penitipan anak, bimbingan belajar dan mengaji) yang menjalankan sebuah sistem pendidikan holistik integratif.

Dalam penyelenggaraan PAUD pelayanan harus memenuhi semua aspek yaitu pendidikan agama, pendidikan umum, pemenuhan gizi, pemantauan kesehatan dan pendidikan keluarga melalui kegiatan keayahbundaan.

Semua program pembelajaran dari awal masuk sekolah sampai dengan pulang dibuat secara masterpiece maknanya apapun kegiatannya walaupun sama dengan lembaga lain akan kami carikan titik keunikan sebagai pembeda dan menjadi branding lembaga kami dan yang sekiranya guru lain ogah menjalaninya kita tak tabu dan canggung melakukannya walaupun terkesan aneh bagi orang-orang awam.

Mengadakan Screening di awal masuk sekolah.
Bagaimanapun kesepakatan dengan wali murid sangat penting untuk menghindari permasalahan yang mungkin timbul di tengah perjalanan program pembelajaran. Pentingnya menyampaikan dan menyamakan visi dan misi lembaga pendidikan kepada orang tua agar bisa menumbuhkan sinergi antara kedua belah pihak.

Manuver ke dalam internal lembaga

Kami mensosialisasikan dan menerapkan Manajemen Pengelolaan PAUD Berbasis Koperasi ala PAUD Enggal Permata pada tahun 2008.
Langkah awal dengan cara yang paling ringan dan sederhana.

Selain menyediakan seluruh kebutuhan siswa mulai seragam, atk, dll, kami mengelola konsumsi anak-anak. Koperasi konsumsi kami awali dengan modal sangat kecil sekali saat itu Rp50.000,-.
Mengadakan rapat awal pembentukan koperasi dan membentuk kepengurusan.

Menentukan kesepakatan berapa uang harian untuk konsumsi siswa yang akan dikelola koperasi. Semua uang saku anak disamakan biar tidak muncul konflik. Berdasarkan pengalaman sebelumnya sebelum disamakan, ada kesenjangan uang saku.

Anak yang orang tuanya mampu uang saku bervariasi ada yang Rp5.000,- , Rp7.000,- bahkan ada yang mencapai Rp10.000,-, sedangkan yang lain paling banyak hanya membawa uang saku rata-rata Rp1.000- Rp2.000, sekali jajan saja sudah habis. Sedangkan yang membawa uang saku banyak akan berusaha menghabiskan uangnya dengan berlari keluar sekolah untuk membeli kue ataupun mainan sampai uang sakunya habis.

Pada hari berikutnya anak yang uang sakunya sedikit tidak mau berangkat sekolah kalau uang jajannya tidak ditambah sehingga orangtuanya mengalami sedikit kuwalahan untuk membujuk anaknya agar tetap mau sekolah dengan uang saku Rp2.000,- . Permasalahan ini kita sampaikan saat acara parenting dan mencari solusi agar permasalahan uang saku bisa teratasi.

Pada kesempatan ini kami berkesempatan untuk memberi pengertian betapa pentingnya mengelola koperasi di sekolah. Akhirnya mendapat kesepakatan uang saku disamakan sebesar Rp1.000, anak mendapat dua buah kue dengan lama belajar mulai jam 07.30 WIB – 10 WIB dengan materi full kegiatan bermain tetapi PAUD masih sepi peminat dan kondisi memprihatinkan siswa baru cuma dua orang, yang satu memutuskan berhenti karena orang tua tidak suka dengan alasan sekolah kok isinya bernyanyi dan bermain saja.

Perlahan tapi pasti pada tahun 2009 kualitas dan kuantitas pembelajaran ditambah dengan program pembelajaran bimbingan membaca dengan metode tutorial sebaya anak diajak bermain peran guru dan murid, hasilnya sangat signifikan rata-rata lulusan kami bisa membaca dengan lancar.

Pada parenting berikutnya uang konsumsi meningkat menjadi Rp2.000,- awalnya anak mendapat 2 buah kue dan 1 buah mainan serba seribu. Hal ini tidak berlangsung lama, setelah dijalani guru merasa kuwalahan untuk persiapan koperasinya, karena harus kerja extra keras untuk mengemas kue setelah anak-anak pulang.

Pada tahun 2011, mulai digalakkan gerakan makan siang di sekolah, uang konsumsinya yang Rp2.000,- untuk makan siang plus 1 buah kue. Pada tahun-tahun berikutnya jumlah siswa mulai mengalami peningkatan sampai pada tahun 2012 program pembelajaran terus ditambah dengan individual Al-Quran Metode Ummi otomatis jam belajar dan waktu bermain bertambah panjang dari pulang jam 10.00 WIB menjadi jam 11.00 WIB.

Alhasil orang tua menjadi senang dan saat parenting uang konsumsi bertambah menjadi Rp3.000,- anak mendapatkan full makan siang saja dengan porsi yang lebih banyak setiap hari sabtu anak diberi hadiah berdasarkan prestasinya.

Gerakan Makan Siang di sekolah akhirnya menjadi primadona sekolah kami, budaya jajan di sekolah mulai hilang yang digalakkan kegiatan gemar makan dan menabung. Mulailah dari mulut ke mulut informasi tersebar, anak-anak yang biasanya rewel saat makan di rumah menjadi semakin rajin ke sekolah, katanya masakan dan makan di sekolah itu enak.

Alhamdulillah dengan perkembangan kualitas pendidikan dan pelayanan yang terus kami tingkatkan, program unggulan terus diluncurkan pada tahun 2013 ada tambahan kegiatan Tahfidul Quran murojaah 1 ayat perhari.

Prestasi siswa kami di SD juga sangat gemilang hampir semua siswa bisa menduduki posisi top 10 di sekolah SD/MI tempat mereka melanjutkan. Pada tahun 2014 mulai saya adakan gerakan Rp5.000,- karena uang konsumsi Rp3.000,- sudah tak bisa mencukupi kebutuhan makan anak-anak dikarenakan siswa terus bertambah sedangkan program individual terus berlanjut sehingga jam pulang menjadi pukul 12.00 WIB.

Kegiatan makan siang yang awalnya porsi ditentukan guru sekarang anak-anak bebas mengambil porsi makannya sendiri secara prasmanan. Sampai saat ini dapur sekolah berkembang menjadi Catering Cah Ndeso. Selain makan siang fasilitas lainnya yaitu anak sudah mendapatkan cukup air putih, susu dan vitamin.

Banyak manfaat kami dapatkan yaitu bisa mengontrol gizi dan konsumsi anak-anak, anak jadi lebih sehat dan lebih jarang sakit, tingkat absensi siswa juga menurun.

B. Tips meningkatkan penghasilan koperasi :
Bersifat produktif artinya konsumsi siswa diusahakan sendiri oleh guru. Misalnya mengemas sendiri makanan ringan, membuat es mambo, roti bakar dan sebagainya.

Menggalakkan program ibu bekerja. Bekerja apa saja asalkan tidak berkumpul di sekolah. Banyaknya orang tua yang berkumpul akan mengundang datangnya banyak pedagang secara otomatis mengurangi pendapatan sekolah dan jatah uang tabungan hari besok bisa menurun.

Menggalakkan siswa untuk rajin menabung minimal Rp1.000,- perhari. Uang tabungan ini dikelola sebagai modal untuk memperbanyak barang dagangan dan uang tabungan hanya akan dibagikan apabila siswa sudah lulus.

Selalu membagi SHU setiap akhir kelulusan berupa hadiah. Saya biasanya memberi baju seragam. Juga ada tambahan hadiah door prize bagi ibu yang rajin parenting, tabungan anaknya saldonya paling banyak dan anak-anak berprestasi. Hadiah tambahan biasanya saya memberi berupa mukena, baju untuk ibu, kain, tas dan aneka peralatan sekolah.

C. Tips untuk bisa bertahan dan istiqomah menjalankan koperasi :
Memurnikan niat hanya semata-mata mencari ridlonya Allah SWT
Mau keluar dari zona nyaman dan siap tampil beda
Menghilangkan semua gengsi dan rasa malu
Bersikap konsisten dan tegas dalam menghadapi wali murid
Selalu meningkatkan kualitas pelayanan dan meningkatkan kualitas para guru.

D. Manuver keluar
Memperluas pasar dengan mendirikan cabang yaitu PAUD Enggal Permata Pos 2
Mengadakan pendekatan kepada Universitas terdekat untuk mendapat program mitra pengabdian dosen.
Membuat program unggulan Belajar Bareng MIA (Mandiri, Intelektual, Akhlak Mulia) sebagai wadah orang tua dan guru Enggal Permata belajar dan juga bisa bermanfaat untuk kalangan umum.
Mengembangkan kantin sekolah sebagai Catering Cah Ndeso yang melayani makan siang even besar di Base Camp BBM.

E. Membentuk tim kerja Hebat yang bernama Enggal Permata Tim Work.
Susunan posisi Tim Hebat ditentukan sesuai bakat dan minat guru.

Berikut susunannya :
Ayah Budi Purnomo selaku Ketua Yayasan Pendidikan Islam Roudlotul Hikmah selain bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana, spesialisasi Outbond Ceria juga mempunyai hobby masak memasak sehingga pantas dijadikan Maskot Catering Cah Ndeso.
Bunda Kusmiati, S.Pd. selaku Kepala Sekolah bertindak sebagai narasumber parenting Maskot Base Camp BBM Malang.
Bunda Miftakhud Dzikria selaku guru TK A, sebagai sekretaris juga Maskot pembelajaran Al-Quran metode UMMI.

Bunda Susmiati selaku Guru TK B1, sebagai bendahara juga Maskot Kurikulum.
Kakak Sutriono Wandoyo yang paling multi talented diantara kita semua. Beliau selaku guru KB juga jadi asisten Cah Ndeso, sebagai instruktur senam dan menari, dirigen, bakat mendongeng, merias wajah, memotong rambut, menjahit, ahli menggambar. Beliau sangat pantas kita jadikan Maskot Perpustakaan RUMPI ( Rumah Impian Enggal Permata) karena bakat literat nya.
Bunda Tita Nurafiyah guru TPA juga sebagai maskot rujak manis
Bunda Titik Nurhidayati guru TK B2 Maskot Ngemcy.

F. Tertib dan Hemat Administrasi Sekolah.
Saya menerapkan prinsip ekonomi dengan sebaik-baiknya dengan menciptakan rancangan pogram pembelajaran yang hemat, efektif dan efisien yaitu RPPH yang biasanya minimal 1 lembar sehari sampai dengan 3 lembar sehari kami pangkas menjadi 1 lembar sehari sehingga bisa meminimalkan pengeluaran sekolah. Semua rancangan pembelajaran dan evaluasi dikemas berdasarkan azas manfaat tanpa mengurangi komponen acuan dari kurikulum nasional.

G. Memisahkan Administrasi Sekolah dan Administrasi Koperasi.

Buku Buku administrasi koperasi
1.buku kas
2.buku modal
3.buku penjualan dan pembelian barang
4.buku persediaan barang
5. buku tanda terima pembagian hasil SHU

Untuk meraih kesuksesan harus berani dan mau berkorban. Awalnya saya harus mau bershodaqoh, sebagian hadiah saya keluarkan untuk memberi hadiah anak-anak maupun orang tua adalah uang pribadi atau barang-barang pribadi.

Karena saat merintis koperasi diawal-awal nyaris tidak ada keuntungan tetapi lembaga harus tetap memberi motivasi kepada walimurid sebagai anggota koperasi. Kami sangat optimis kepuasan orangtua adalah investasi jangka panjang lembaga.

Orang tua yang merasakan kepuasan pelayanan, akan menjadi brosur sekaligus memberi testimoni yang baik kepada calon wali murid yang baru maupun ke masyarakat luas. Sampai dengan sekarang saya tidak pernah melakukan promosi dengan brosur maupun spanduk yang kami anggap suatu bentuk pemborosan.

Promosi kami lakukan dengan sesering mungkin mengadakan kegiatan-kegiatan sederhana yang bermakna kemudian kami sebar melalui jejaring media sosial seperti Facebook dan website sekolah, juga mengadakan kegiatan yang bermanfaat bagi warga sekitar dengan mengadakan baksos, pembagian hewan kurban, memberi beasiswa kepada anak yatim dan anak terlantar, mengutamakan pemerataan pelayanan pendidikan kepada warga tidak mampu dengan sistem jemput bola dengan membuka layanan kelas jauh.

Kami berusaha mengedukasi masyarakat dengan cinta, kita rangkul semua kalangan maka dengan sendirinya antusias warga untuk menyekolahkan PAUD meningkat dengan sendirinya. Dahulu murid kami cuma sedikit dan biaya operasional yang hanya bersumber dari uang SPP, itupun tidak lancar sekarang sudah ada laba koperasi. Sedangkan uang SPP bisa digunakan untuk dana pengembangan sekolah dan lain-lain. (*)

*) Direktur Base Camp BBM Malang Tahun 2017

About the author

admin

Leave a Comment