Kolom

Siapa Guru?

adi sutarwiyono
Written by admin

Oleh Adi Sutarwiyono*

“Ada pandangan luhur jika ia (guru) bekerja dengan ikhlas maka kehidupan tidak akan membiarkannya  binasa, mereka akan mampu bertahan, mengarunggi hidup untuk mengapai cita-citanya”

 

Apa yang dimaui oleh negara dari seorang guru?, disatu sisi mereka harus membentuk karakter siswa, mentransfer ilmu pengetahuan, mereka juga harus bertarung untuk mendapatkan penghasilan. Tidak cukup mengajar disekolah negeri tetapi juga swasta, tidak cukup swasta tetapi juga mengajar les privat. Mereka dituntut mengajar selama 24 jam dalam seminggu untuk mendapatkan sertifikasi. Padahal ada tuntutan untuk mampu menghasilkan generasi yang kreatif. Bagaimana bisa kreatif jika waktunya habis untuk mengurusi hal yang sifatnya administratif

Guru itu peradaban, karena dari gurulah muncul generasi-generasi baru yang menjadi pemimpin dinegeri ini. Tidak ada manusia yang sukses tanpa guru.

Selain sebagai profesi, guru juga berada dalam status sosial kelas menengah yang memiliki pengaruh dilingkungannya dan guru juga merupakan persona yang sudah paripurna.

Sebagai profesi guru menguasai ilmu pengetahuan, dia  merupakan kelompok manusia yang tahu. Mereka sudah mengalami proses dari ketidaktahuan menjadi tau. Dari ketahuan inilah mereka mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tau.

Sedangkan dalam stasus sosial guru merupakan kelas menengah yang memiliki pengaruh. Suaranya akan lebih didengar oleh masyarakat dari pada profesi lainnya. Dari rapat RT sampai sidang pengadilan, guru menjadi orang ahli yang paling didengar keterangannya.

Setiap orang yang menyandang atribut guru, hidupnya sudah paripurna, pemikiran mereka tentang materi berbeda dengan manusia kebanyakan. Kita akan sudah memahaminya. Mereka tahu arah hidup tujuan manusia, disinilah akhirnya guru menjadi panutan. Guru itu peradaban, karena peradaban manusia itu yang menghasilkan adalah guru. Kalau kita berkaca di zaman Majapahit, dimana Brahmana (guru) menjadi strata teratas dilingkungan sosial dibawahnya ada ksatria (pegawai), waisya (pedagang) dan sudra (rakyat biasa). Pemerintah (ksatria) saat itu sebelum mengambil keputusan pasti meminta nasehat dari seorang Brahmana karena mereka menguasai ilmu pengetahuan.

Inilah yang menjadi kelebihan dan juga bisa menjadi beban bagi seorang guru karena banyaknya atribut yang disandangnya. Berbeda dengan guru dinegara barat yang spesifik hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Tetapi di Indonesia berbeda, pertemuan berbagai aliran seperti kebudayaan yang menegaskan guru sebagai panutan, kemudian dialiri pengaruh modern guru harus mengajarkan ilmu pengetahuan dan warisan kolonialisme yang menempatkan guru sebagai profesi terhormat.

Ada pandangan luhur jika ia (guru) bekerja dengan ikhlas maka kehidupan tidak akan membiarkannya  binasa, mereka akan mampu bertahan, mengarunggi hidup untuk mengapai cita-citanya. Saya yakin ini karena saya juga anak dari seorang guru.

 

*Anggota DPRD kota Surabaya

About the author

admin

Leave a Comment