Guruku Menulis

Pendidikan Pecundang

WhatsApp Image 2018-01-19 at 6.53.28 PM
Written by admin

 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun…. Ikut berduka cita atas meninggalnya sahabat guru Bapak Budi dari SMAN Torjun Sampang akibat dianiaya oleh muridnya, Kamis, 1 Pebruari 2018. Duka pendidikan penganiayaan baik guru terhadap murid atau murid terhadap guru dan bahkan oleh orang tua atau oknum diluar murid terhadap guru, kadang juga antar murid dengan murid, bukanlah kejadian yang pertama kali, tapi sudah berkali kali, bahkan di Jatim sudah cukup banyak terjadi, terakhir kejadian di Surabaya, seorang siswa karena bergurau yang karena terlalu berlebihan menyebabkan kelumpuhan pada temannya.

Mengapa ini bisa terjadi? Pendidikan sejatinya ditujukan untuk mencerdaskan para anak didiknya, cerdas dalam artian yang sangat luas, cerdas secara kognitif, cerdas bersikap dan cerdas berperilaku. Tentu saja kecerdasan dalam proses belajar yang dimaksud adalah kecerdasan yang berdampak positif. Sehingga idiom yang dibangun adalah pendidikan itu suatu proses menjadikan anak dari gidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak baik menjadi baik.

Beratnya tugas pendidikan itu bagi saya kemudian mengibaratkan tugas guru seperti tugas kenabian, bukankah Nabi diutus untuk merubah perilaku manusia dari yang tidak baik menjadi baik, dari tidak memgerti menjadi mengerti atau juga dari tidak tahu menjadi tahu. Sehingga untuk menjadi guru tidak semua bisa kecuali mereka yang mempunyai kualitas kenabian.

Bagaimana bisa menciptakan kualitas pembelajaran, kalau gurunya tidak berkualitas, bagaimana pendidikan bisa berkualitas kalau yang diserahi amanah bukanlah orang yang berkualitas? Apa yang terjadi saat ini di Sampang bukanlah sebuah kejadian yang berdiri sendiri, tapi merupakan sebuah proses yang bersebab akibat. Bisa jadi pola pengasuhan diluar sekolah yang kurang baik atau juga proses pembelajaran yang kurang memperhatikan kebutuhan anak, sehingga momentum terjadinya kekerasan menemukan waktunya. Freud menyebutnya sebagai ketersumbatan psikologis ” Fiksasi ”

Sekolah kita sudah lama menjadi penjara bagi anak anak, sekolah kita tak mampu melahirkan pemenang, karena sekolah tidak lagi dikelola menjadi pendidikan bagi sang juara, sekolah kita telah menjadi ruang terisolir bagi mereka yang ” berkebutuhan khusus ” , baik mereka yang berkebutuhan khusus secara akademis maupun mereka yang berkebutuhan khusus secara psikis maupun affektive. Sekolah hanya didedikasikan untuk mereka yang rata rata, karena para guru kita tidak pernah diberi sesuatu yang diatas rata rata, sehingga guru kita hanya tahu yang ada tak mampu memahami yang tak terlihat dalam sebuah proses pembelajaran, Maslow menyebutnya kebutuhan aktualisasi dan kebutuhan apresiasi.

Sekolah menjadi sarang pecundang, mereka dididik menjadi orang yang kalah, tak mampu bersaing, menyalahkan orang lain, dan barrier yang dibangun kalau anak melanggar peraturan sekolah maka anak harus dikeluarkan dari sekolah. Dibuatlah oleh sekolah barrier point atas nama peraturan dan ketertiban sekolah yang lebih menguntungkan sekolah. Sekolah tak lagi mampu membangun jiwa pemenang bagi anak didiknya, karena memang guru guru kita sebagian besar bukanlah pemenang, guru guru masih banyak disibukkan dengan apresiasi materi dibanding kebanggan melakukan proses yang berkualitas. Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan lebih sibuk dengan ” proyek ” yang mengatasnamakan kulaitas pendidikan, tapi hasil keterukurannya hanya pada angka angka telah melaksanakan kegiatan sekian kali, telah melatih sekian jumlah guru, tapi hasilnya seperti apa, barangkali itu yang belum terlaksana.

Menjadi pemenang bukanlah pemberian, pemenang dihasilkan dari sebuah proses perjuangan, sehingga pendidikan harus dipegang oleh mereka yang bermental pemenang.

Bukankah kita sudah lama diproses menjadi pecundang? Angka angka kelulusan murid kita juga produk angka pecundang, pelaksanaan ujian kita juga disusupi dengan perulaku pecundang, tim sukses ujian nasional, soal yang sudah dibocorkan dan perilaku pecundang lainnya.

Rasanya baru kemarin saya berdiakusi didalam rapat Dewan Pendidikan Jatim yang mengusulkan dibangun sekolah pemenang, sekolah yang melahirkan juara, sekolah yang menghargai semua, Konsep Sekolah Rumah Anak, namun sayangnya konsep itu hanya berada dalam ruang gagasan yang tak kunjung terealisasikan. Ketika itulah saya teringat dengan sahabat guru dan bapak saya yang sangat inspirasi dalam membangun sekolah yang memanusiakan, Bapak Kentar Budhojo denga sekolah garasinya, Ustadz Nafik Naff dengan sekolah yang memanusiakan serta Gus Lukman Hakim dengan sekolah dolannya. Mereka adalah pendekar sekolah yang memanusiakan… Hormat saya untuk penjenenan semua, semoga Allah merahmati.

Gagasan saya membangun sekolah memanusiakan dengan pendidikan yang partisipatif dan berkembang menjadi sekolah ramah anak serta sekarang menjadi Sekolah Rumah Anak sejatinya gagasan pendidikan pemenang, menjadikan sekolah sebagai lahan persemaian membangun jiwa pemenang

Hanya ditangan juara, pendidikan kita bisa melahirkan para juara, pendidikan itu memanusiakan manusia.

Jadikan sekolah kita sebagai sekolahnya para juara, bukan sarang para pecundang yang hanya menjadi beban dunia pendidikan kita.

” Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu sendiri tidak berinisiasi merubahnya ” ( Q, S. Ar Rad : 11 )

Menjadi Juara atau Pecundang adalah pilihan, semua bergantung pada niat kita mengurusi pendidikan

Assalammualaikum wr wb…… Selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga Allah selalu membimbing kita pada jalan menuju kemenangan…… Aamien

Surabaya, 2 Pebruari 2018

M. Isa Ansori
Pengajar di STT Malang, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

About the author

admin

Leave a Comment