Guruku Menulis

Merindukan Cak Durasim di Kesenian Ludruk Surabaya

WhatsApp Image 2018-01-19 at 6.53.28 PM
Written by admin

Cak Durasim tinggal menjadi sebuah legenda. Beliau adalah seniman Ludruk kelahiran Jombang, dia adalah seniman ludruk sejati di jaman Soerabaja Tempo Doeloe. Dia yang memprakasai perkumpulan ludruk di Surabaya.

Pada tahun 1937, beliau mempopulerkan cerita-cerita legenda Surabaya dalam bentuk drama.

Sebagai seniman pejuang, beliau selalu menggelorakan perlawanan terhadap penjajah melalui kidungan kidungannya.
Sikap kritis itulah yang kemudian mengantarkan Cak Durasim ke penjara.

Pada tahun 1942 ketika tentara Jepang menjajah Indonesia, melalui ludruk sebagai media siar, dia membangkitkan semangat juang arek-arek Suroboyo dan mengkritik pemerintah penjajah.

Puncaknya pada waktu pentas di Keputran Kejambon Surabaya. Cak Durasim melantunkan Kidungan yang sangat populer yang berbunyi : “Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah soro” – Bekupon adalah sangkar burung dara, Ikut NIPPON (Jepang) bertambah sengsara”.
Yang artinya : kehidupan pada jaman Jepang lebih sengsara dibanding dengan kehidupan di jaman penjajah Belanda. Kidungan ini yang menyebabkan Cak Durasim dipenjarakan dan disiksa oleh tentara Jepang. Pada tahun 1944 Cak Durasim menghembuskan nafas terakhir di dalam penjara dan dimakamkan di Makam Islam Tembok.

Semangat Cak Durasim adalah simbol perlawanan melawan ketidak adilan, penindasan dan kelicikan. Cak Durasim paham sekali bagaimana menempatkan kesenian ludruk sebagai corong aspirasi perlawanan. Sehingga kesenian ludruk menjadi kesenian yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat. Ludruk adalah wujud kesenian yang egaliter dan anti feodalisme.

Nah masih adakah semangat itu? Mendengarkan tutur dari Bu Ngatinah, yang biasa dipanggil Bu Tina, rasanya miris, Ludruk sudah kehilangan ruh nya, idealisme kerakyatan yang egaliter, semangat perlawanan dan gotong royong hanya tinggal kenangan. Sebagian organ ludruk di Surabaya pelan tapi pasti menjelma sebagai kekuatan industri yang berpihak pada pemilik ” uang ” dan ” kekuasaan “. Sebagian yang lain termajinalkan. Mereka berkarya untuk dirinya dan kelompoknya, tak peduli kelompok yang lain. Sehingga kesannya saling mengkanibal satu sama lain.

Ruh daya kritisnya menjadi kering dan pesan moral pendidikan masyarakatnya terasa hampa. Masih beruntung kita, Cak Kartolo bersama kawan kawannya masih mampu menjadi ludruk yang egaliter dan hadir bersama keberadaan masyarakat.

Semoga saja para seniman ludruk masih mengingat pesan Cak Durasim dalam berkeseniannya…. Aamien

Surabaya, 19 Januari 2018

M. Isa Ansori
Pengajar di STT Malang dan Pegiat Pelestari Cagar Budaya di Komunitas Bambu Runcing Surabaya ( KBRS )

About the author

admin

Leave a Comment