Guruku Menulis

Merenda Harapan Bagi Terwujudnya Pendidikan Yang Memanusiakan

IMG-20180217-WA0007
Written by admin

Menarik sekali membincang tentang pendidikan yang memanusiakan, karena sejatinya pendidikan itu diperuntukkan bagi terbentuknya sebuah prilaku yang beradab. Perilaku beradab itu pulalah menjadi penopang seni hidup berkebudayaan bersama masyarakat lain dan lingkungan alam. Sehingga nilai nilai yang sejalan dengan tujuan kemanusaiaan bisa disemai dalam kehidupan.

Pendidikan itu sendiri sejatinya adalah sebuah proses mencerahkan dari sesuatu yang tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari proses tidak beradab menjadi beradab, dan seterusnya yang menggambarkan sebuah proses perubahan kearah yang lebih baik. Sehingga siapapun yang pernah mengalami proses pendidikan, bisa dipastikan akan membawa perilaku kemanusiaan yang menyemai nilai nilai keadaban. Dalam bahasa Al Qur’an Allah Mengambarkan sebuah proses keluarnya dari kegelapan menuju kejalan yang terang.

Lalu apa yang dimaksud dengan manusia?

Manusia dalam bahasa Al Qur’an dibedakan menjadi beberapa sebutan, Merujuk pada penciptaan Nabi Adam, maka manusia adalah mahluk yang diberi kewenangan oleh Tuhan untuk mewarisi dan mengelola alam sebagai wakil Tuhan. Allah menyebutnya sebagai ” Khalifah “.

Dalam tugasnya sebagai wakil Tuhan, Tuhan menyertakan beberapa hal kepada manusia agar mempunyai kemampuan dalam menjalankan manajemen pengelolaan kehidupan di bumi. Adapun potensi yang diberikan adalah antara lain kemampuan kreatif manusia untuk mengenal nama nama dan fungsi benda di alam. Itulah nantinya yang disebut dengan ilmu pengetahuan.

Potensi yang lain adalah kemampuan untuk belajar pada pengalaman bagaimana cara mendayagunakan ketersediaan sumber daya yang ada, sebagaimana kehidupannya di surga. Ada pengalaman bersyukur dan pengalaman menahan diri agar tidak terjebak pada Pelanggaran nilai nilai. Karena pelanggaran nilai nilai yang ada, tentu akan berdampak pada diri dan lingkungan. Sehingga pada diri manusia ada potensi kreatif dan bebas untuk memilih sesuai dengan kebutuhannya.

Ada juga potensi lain yang disebut kemampuan untuk kembali kepada nilai nilai yang dibenarkan, potensi itu disebut dengan kemampuan fitrah. Dengan kemampuan itu diharapkan manusia akan bisa segera tersadar ketika dalam proses pengelolaan alam salah segera untuk memperbaiki.

Apa Itu Pendidikan Yang Memanusiakan ?

Bila merujuk pada pemahaman diatas, maka pendidikan yang memanusiakan adalah proses pemberitahuan dari hal hal yang disebut dengan kegelapan, ketidak tahuan, ketidak santunan, ketidak mengertian menuju proses yang disebut sebagai penerangan, kemengertian, kesantunan dan keadaban. Proses baik dalam berkebudayaan. Dalam mendapatkannya proses berkebudayaan yang baik itu, cara yang dilakukan adalah dengan memperhatikan memperhatikan potensi yang dimiliki, minat daya kreatifitasnya serta membangun pengalaman belajar yang menumbuhkan kesadaran dan proses kreatif yang baik.

Pengalaman baik melakukan pendidikan yang memanusiakan pernah terjadi ketika para pendiri republik ini menyadari bahwa untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, maka perlu ditanamkan pendidikan yang memerdekakan, karena sejatinya manusia adalah mahluk yang diberi kemerdekaan. Untuk memulainya pendidikan yang memerdekakan itu, maka dimulailah dengan memahami keunikan setiap anak, potensi yang dimiliki serta kebutuhan untuk berkreatifitas. Konsep belajar yang dikembangkan adalah sistim among dan menjadikan sekolah sebagai sebuah tempat yang menyenangkan untuk berkreasi dan belajar. Ki Hajar Dewantara menyebutnya sebagai taman. Maka tanggal 3 Juli 1922, beliau mendeklarasikan pendidikan yang memanusiakan dengan nama Taman Siswa.

Pasang surut pendidikan kita telah kita lewati, kurikulum berganti berkali kali, tapi sejatinya apakah pendidikan kita memanusiakan? Kembali kepada kita semua, sebaik apapun kurikulum kita, kalau kita sebagai guru tak mampu memberi ruh yang memanusiakan, pendidikan kita akan kering, kering dari nilai nilai moralitas dan tanggung jawab, yang adalah sebuah rutinitas tanpa arti. Guru yang memanusiakan anak adalah guru masa kini yang diharapkan bagi perbaikan pendidikan kita.

Guru yang memanusiakan itu adalah guru yang melihat anak anak pada zamannya dan dia Mempersiapkan anak anak menghadapi zamannya.

Guru yang memanusiakan itu adalah guru yang mau belajar dan berbagi, karena guru yang seperti itu akan mampu melihat potensi dan kecerdasan masing masing anak didiknya.

Guru itu adalah orang yang berilmu dan bisa berbagi ilmu, sehingga Nabi menyebutnya sebagai ulama pewaris para nabi. Dan diantara mereka adalah mereka yangbditinghikan derajatnya.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur’an dan yang mengajarkannya”. (HR bukhari)

“Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang”. (HR. Abu Dawud )

Semoga kita semua para guru diberikan kekuatan dan kecerdasan mampu memahami kebutuhan belajar dan pengembangan diri anak didik kita, sehingga kita tidak berjarak dengan mereka, kita menjadi keluarga bagi mereka…. Karena mereka anak anak kita juga.

Assalammualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat berbagi kebaikan, semoga kita semua bisa menjadi manusia yang menghargai manusia yang lainnya …aamiien.

Surabaya, 17 Pebruari 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Pengajar di STT Malang, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

About the author

admin

Leave a Comment